blogdelavie

Wah sudah lama sekali saya tidak menulis, mari saya lanjutkan

Jadi nih, hobi saya memang belanja, namanya juga wanita, bedanya kalau dulu saya belanja untuk kebutuhan pribadi, baju kerja, sepatu, make up, tas dan lain-lain, sekarang saya belanjanya untuk dijual kembali hehe

Flashback dulu ya, seorang teman seakan memandang kesukaan belanja saya ini hal yang tidak berkelas dibanding hobinya yang keliling dunia. Oh well, saya belanja tidak minta uang dia, dan sayapun tidak mencela hobinya yang pamer update check in sana sini. Beberapa hari lalu saya melihat postingan seseorang di media sosial yang kurang lebih intinya adalah, lebih baik travelling karena kenangannya melekat, bukan seperti shopping yang barangnya bisa habis.

Segitunyaaa….baiklah…

Mungkin dia belum tahu sensasi mencari barang-barang langka, sensasi masuk keluar pasar loak, sensasi masuk high end brand, sensasi mendapatkan barang idaman dengan harga super miring dan sensasi-sensasi yang dirasakan oleh para pembelanja. Itu juga ada kenangannya lho 🙂

Bukan sekali dua tiga kali saya selalu dianggap rendah diantara para pengembara dunia, kenapa sih? Shopping itu dosa dan travelling itu nggak dosa ya? haha

Shopping itu hedon? Masih banyak yang hidupnya susah. Terus kalau travelling itu habis berapa? Coba dihitung juga dong

Prioritas hidup orang berbeda-beda, jangan memandang rendah sesuatu yang terlihat “sederhana” vs “sesuatu yang mendunia”. Selama yang melakukan tidak merugikan orang lain, melakukan aktivitas atas biaya sendiri , bukan hasil korupsi, bukan hasil jual diri, pokoknya yang halal deh, apalagi minta dana ke lawan bicara, kenapa juga mesti repot, ya kaaan